Slideshow

Silahkan ubah teks yang anda inginkan di bawah ini :

Senin, 19 Maret 2012

Kisah Tan Malaka di Bayah, Lebak, Banten

Pada rangkaian tulisan yang lalu telah dikemukakan tentang jalan KA maut alias Death Railway antara Birma-Siam dan antara Muaro Pekanbaru dengan jumlah korban fantastis yang terdiri dari tawanan perang (POW) Sekutu dan romusha. Keduanya menyangkut pembangunan jalan kereta api yang punya arti sangat strategis bagi kelanjutan ekspansi tentara Jepang pada Perang Dunia ke 2, dan dikerjakan dengan sistim kerja paksa (slave labour) romusha dan POW tadi. Pembahasan akan menjadi kurang lengkap kalau Death Railway ke tiga tidak kita singgung dalam rangkaian kisah kekejaman perang ini. Death Railway yang ke 3 adalah pembangunan jalan kereta api antara Saketi-Bayah di Banten Selatan yang dilakukan pada tahun 1942-1945.Pembangunan jalan KA Saketi-Bayah juga merupakanbagian dari strategi perang Jepangbertujuan ganda : pertama mengangkut batu bara dari tambang batu bara Cikotok yang merupakan bahan bakar kereta api dan kapal zaman itu, kedua guna menghindarkan angkutan laut yang sudah mulai terancam oleh serangan torpedo kapal selam sekutu. Pembangunannya juga dilakukan dengan menggunakan tenaga romusha tanpa POW, tapi melibatkan sejumlah tenaga ahli perkereta apian Belanda yang menjadi tawanan perang Jepang. Pekerjaan penambangan batu bara inipun dikerjakan dengan penggunaan tenaga romusha. Bantalan kayu dan rel untuk pembangunan jalan KA ini diambil dari seluruh Jawa, sebagaimana halnya juga dengan tenaga romusha yang kebanyakan berasal dari Jawa Tengah, seperti dari Purworejo, Kutoarjo, Solo, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta, dan lain-lain. Pembangunan jalan kereta api sepanjang 89 km ini menelan korban yang diperkirakan mencapai 93.000 jiwa romusha. Bayah yang sibuk dengan aktivita pembuatan jalan kereta api dan penambangan batu bara inilah yang juga terkait dengan cerita seputar Tan Malaka.
Diceritakan bahwa dikota kecil Bayah inilah Tan Malaka pernah menetap. Kota yang merupakan tempat yang aman bagi persembunyian Tan Malaka, dan tempat yang cukup tenang guna meneruskan aktivitasnya menuliskan buah-buah pemikirannya tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Walau kisah sejarah ini sangat mencekam dilihat dari korban jiwa romusha yang fantastis itu, ternyata saat ini jejak-jejak sejarah itu sudah hampir-hampir lenyap. Masyarakat banyak yang hanya pernah mendengar kisah ini dan hampir semuanya sekarang bersikap acuh tak acuh. Tempat-tempat yang dulu dikenal sebagai sumur romusha, stasiun Kereta Api, goa-goa bekas penambangan batu bara, semua sudah sulit ditemukan. Rel-rel untuk angkutan batu bara sudah habis diangkut tukang besi untuk dijual. Satu-satunya apresiasi yang pernah diberikan terhadap para korban ini adalah kehadiran sebuah monumen berupa tonggak setinggi 3 meter, yang terletak di sebelah SLTPN 1. Tugu yang dikhabarkan dibangun oleh Tan Malaka ini berada dalam kondisi tidak terawat dan terkesan diabaikan. Berikut ini adalah beberapa kisah seputar jalan kereta api maut Saketi-Bayah yang diambil dari sejumlah posting di internet : Berikut ini terjemahan dari buku yang sama, tentang jalur Banten Selatan (Jan de Bruin) Jalur Banten Selatan (Saketi-Bayah) Terutama setelah tahun 1943, kesulitan hubungan laut (akibat kegiatan kapal selam Sekutu) menimbulkan masalah bahan bakar di Jawa. Sebelum perang, sebagian besar lokomotif menggunakan bahan bakar batu bara, dan sebagiannya kayu jati. Produksi kayu per tahun adalah sekitar 300 ribu ton, sebagian besarnya dari Dinas Kehutanan (Boschwezen = Perhutani). Untuk kepentingan perusahaan kereta api, diperlukan 900 ribu ton kayu bakar per tahunnya. Maka, sejak tahun 1942, Jepang memiliki gagasan untuk memanfaatkan batu bara muda di sekitar Bayah sebagai bahan bakar. Jepang mendapatkan sebuah laporan dari sekitar tahun 1900 bahwa cadangan batu bara muda di Bayah mencapai 20-30 juta ton. Jepang memperkirakan bahwa produksi batu bara per tahun mungkin mencapai 300 ribu ton. Namun cadangan batu bara tersebut tersebar di lahan yang luas dan terisolasi. Lapisan batu bara itu juga tipis, hanya sekitar 80 cm, sehingga eksploitasi besar-besaran pada masa damai tidak akan ekonomis. Namun ini adalah masa perang. Untuk bisa mengeksploitasi tambang-tambang itu, dibangun jalur sepanjang 89 km dari Saketi (sebuah stasiun di jalur Rangkasbitung-Labuan) ke Bayah, di selatan Banten. Rencana jalur mulai dirancang pada bulan Juli 1942, dan pembangunan dimulai awal tahun 1943. Bantalan kayu dan rel dikirim dari seluruh Jawa ke Saketi. Sejak awal tahun 1943 banyak pakar perkeretaapian Belanda dipaksa untuk menyumbangkan keahlian dan pengetahuan mereka untuk pembangunan jalur ini. Seperti juga di Sumatera, kerja terberat dalam pembangunan jalur ini dilakukan oleh para romusha. Banyak dari mereka menjadi korban karena kekurangan makan dan penyakit tropis. Angka yang diberikan bervariasi dari 20 hingga 60 ribu, belum termasuk 20 ribu pekerja tambang yang tewas. Daerah berpenduduk jarang ini masih merupakan rimba, rawa-rawa dan bukit-bukit, penuh dengan hewan buas. Ditambah dengan kerja keras dan ketiadaan obat-obatan, tidak kurang dari 500 romusha setiap harinya tewas, namun setiap harinya jumlah yang lebih besar direkrut untuk menjadi pekerja. Pada masa pembangunan jalur ini sekitar 25-55 ribu pekerja membangun jalur ini. Sejauh diketahui, tidak ada tawanan perang yang dipekerjakan untuk membangun jalur ini. Pada bulan Maret 1944 jalur telah siap, dan dibuka pada 1 April 1944 (tepat 61 tahun yang lalu!) oleh para pejabat Jepang. Lokomotif BB10.6 menarik kereta pertama di jalur ini. Jalur ini berawal di stasiun Saketi, dan berakhir di Gunungmandur, letak tambang batu bara yang terjauh. Stasiun Gunungmandur terletak dua kilometer dari stasiun Bayah. Jalur sepur tunggal ini memiliki sembilan stasiun dan lima halte (yaitu Cimangu, Kaduhauk, Jalusang, Pasung, Kerta, Gintung, Malingping, Cilangkahan, Sukahujan, Cihara, Panyawungan, Bayah dan Gunungmandur). Masing-masing stasiun setidaknya memiliki dua jalur dan bangunan stasiun kecil; Bayah memiliki lima jalur. Selain stasiun Gunungmandur, tujuh stasiun yang lebih kecil dilengkapi dengan sinyal dengan handel kayu. Bayah menggunakan sinyal Alkmaar. Setiap harinya maksimum 300 ton batu bara muda dibawa ke Saketi. Selain batu bara, ada pula kereta api penumpang, namun karena daerah ini berpenduduk jarang, sebagian besar penumpang adalah pekerja kereta api atau pekerja tambang. Setiap harinya 800 penumpang bepergian, yang diangkut dengan 15 kereta kelas 3. Jalur ini dibangun relatif lebih kokoh daripada jalur Pekanbaru, dengan 20 jembatan, semuanya dengan ujung-ujung dari batu. Untuk pembangunan jalur Banten Selatan ini digunakan material kereta api dari pabrik-pabrik gula yang ditutup dan lok tram PsSM No. 12 (B16). Setelah beroperasi, digunakan material SS dan lok BB10. Kompas, Sabtu, 07 Agustus 2004 Menyusuri Jejak Romusha di Pulau Manuk DEBUR ombak pantai selatan itu menjadi saksi bisu atas penderitaan ribuan orang, sekitar 60 tahun silam. Namun, kini jejak-jejak kekejaman yang menewaskan ribuan rakyat Indonesia itu mulai terhapus oleh sikap acuh tak acuh generasi zaman ini. Sejarah romusha di Pulau Manuk, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten, itu kini terancam hilang dari kenangan. SATU-satunya apresiasi terhadap kegetiran para romusha itu hanyalah berupa tonggak monumen yang berlokasi di sebelah SLTPN 1 Bayah, tak jauh dari Kantor Camat Bayah. Itu pun kurang terawat dan terkesan diabaikan. Pekan ketiga bulan Juli lalu, bangunan bersisi empat dengan tinggi sekitar tiga meter tersebut mulai menghitam. Rumput-rumput liar memenuhi gundukan tanah pinggir jalan raya, tempat Monumen Romusha itu dibangun. Bendera merah-putih tidak terpasang sempurna karena kaitan bagian merah terlepas. Merah-putih yang tidak bisa berkibar seolah mengabarkan ketidakberdayaan para romusha di bawah kekejaman penjajah Jepang, tahun 1942-1945. Pareno (87), salah satu mantan romusha itu, tertegun sejenak ketika menunjukkan lokasi stasiun, tempat parkir berbagai lokomotif kereta api zaman Jepang, di kawasan pantai Pulau Manuk. Bekas stasiun itu hanya menyisakan pal-pal pondasi yang penuh rumput dan tanaman liar. Tidak jauh dari tempat itu, kuburan para romusha malah tidak ada lagi tanda-tandanya. Kuburan itu hanyalah tanah kosong di sela-sela semak di pantai Pulau Manuk, yang sering terempas ombak ketika laut pasang. “Tanah di sini sudah dikapling-kapling dan kebanyakan punya orang Jakarta,” tutur Pareno yang menjadi pemandu dadakan saat menyusuri jejak romusha di tempat itu. Selain Monumen Romusha, perlu kerja keras untuk menemukan jejak-jejak romusha di Bayah. Sumur romusha, stasiun kereta api, goa-goa bekas tambang batu bara di zaman penjajahan Jepang, kuburan romusha, makanan romusha, dan hal-hal lain yang berbau romusha seperti punah begitu saja. “Rel-rel kereta api untuk angkutan batu bara zaman Jepang sudah habis diangkut tukang besi dan dijual,” ujarnya. Sumur romusha, tempat para romusha mengambil air untuk minum yang terletak di lahan perkebunan, belakang SLTPN 1 Bayah, kini tertutup tanaman liar. Jenis sayuran yang dahulu dikonsumsi para romusha, seperti sayur bunga karang, sayur ganggang laut, dan lodeh empot, sudah sulit didapat di Pasar Bayah. Upacara peringatan romusha oleh masyarakat setempat, berupa atraksi atau karnaval, pun sudah lama tidak digelar. Menurut Pareno, sudah empat tahun terakhir desanya tidak menggelar peringatan itu seiring dengan meninggalnya para bekas romusha. “Anak-anak muda sekarang malu memperingati upacara itu. Mereka malu kalau diketahui keturunan bekas romusha,” ungkapnya. Andaikata semua itu masih terawat, niscaya akan menjadi obyek wisata sejarah, melengkapi wisata pantai yang membentang di pesisir Banten Selatan. Keindahan panorama pantai akan diperkaya oleh kedalaman perenungan batin atas perjalanan sejarah negeri ini. PULAU Manuk adalah salah satu dari beberapa lokasi di Bayah yang menjadi saksi bisu aksi penindasan Jepang terhadap para romusha. Kawasan yang berjarak sekitar lima kilometer dari kota Kecamatan Bayah atau pertigaan Terminal Bayah itu bisa dicapai dari berbagai jurusan. Dari Jakarta, Bayah bisa ditempuh melalui Sukabumi-Pelabuhanratu (Jawa Barat), atau melalui Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak (Banten). Jika melalui Pelabuhanratu, jalur yang dilewati, antara lain Cisolok-Cipicung-Cikotok-Bayah atau Cisolok-Cibareno-Bayah. Jalur Cisolok-Cibareno-Bayah akan melewati beberapa jalan mendaki dan menurun, tetapi pengunjung akan mendapat suguhan panorama laut selatan, seperti Pantai Cibangban, Cibareno, dan seterusnya. Indahnya pantai selatan di kiri jalan, yang diselingi dengan liukan nyiur dan hamparan sawah di dekat pantai, bisa dinikmati di jalur selatan itu hingga Muarabinuangeun. Namun, jika menyetir mobil, perlu berhati-hati dan jangan sampai terlena pada keindahan pantai selatan. Di sepanjang jalur selatan itu, masih banyak jalan berlubang kendati masih layak untuk dilalui. Di samping itu, situasi jalan di tempat-tempat tertentu pada jalur itu kadang-kadang sepi. Jika melalui Rangkasbitung, jalur yang dilewati, antara lain, yaitu Saketi (Pandeglang)-Malingping-Bayah. Sebelum sampai Malingping, pengunjung akan melewati jalan berliku-liku di antara permukiman warga dan area perkebunan dengan kondisi jalan yang sebagian bagus, tetapi sebagian sudah rusak. Setelah melewati Malingping ke arah Bayah, pemandangan pantai selatan terhampar di kanan jalan. Selain terkenal dengan sejarah romusha, Bayah juga tercatat dalam buku sejarah sebagai tempat persembunyian tokoh Tan Malaka. Di Banten Selatan itu, ia pernah menyamar sebagai mandor pertambangan batu bara dengan nama samaran Ilyas Husein. Tan Malaka sempat mengorganisasi para romusha, membentuk kelompok drama, dan menyelesaikan karya magnum opus-nya, Madilog. Pada zaman penjajahan Jepang, tulis Adhy Asmara dalam Pesona Wisata Zamrud Katulistiwa Banten, kapal-kapal perang Jepang banyak yang melakukan pendaratan di seputar muara Cimadur, Pantai Bayah. Saat itu, Bayah dikenal sebagai penghasil utama batu bara, yang digunakan untuk bahan bakar kereta api, kapal laut, dan pabrik. Penambangan batu bara, antara lain dengan pembuatan lubang-lubang tambang batu bara di Gunung Madur serta pembuatan rel kereta api Bayah-Seketi untuk mengangkut batu bara, diperkirakan memakan korban kurang lebih 93.000 romusha. Pareno mengungkapkan, sebagian besar romusha itu didatangkan dari Jawa Tengah, seperti Purworejo, Kutoarjo, Solo, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta, dan lain-lain. SEJARAH Romusha di Bayah merupakan potensi wisata sejarah yang diabaikan. Potensi itu sebenarnya akan melengkapi potensi wisata pantai selatan dan wisata ke gua-gua alam. Namun, semua potensi tersebut kurang digarap sehingga terkesan merana. Adhy Asmara dalam buku yang sama menyebutkan, kawasan Pulau Manuk telah ditata menjadi Desa Wisata Romusha Pulau Manuk. Akan tetapi, saat menyusuri kawasan itu, tidak terlihat adanya tanda-tanda tempat itu telah dijadikan desa wisata. Sejarah romusha di Banten Selatan-seperti sejarah di balik Tembok Berlin (Jerman), kisah di balik Tugu Tiananmen (China), atau cerita kekejaman Nazi di Monumen Kebangkitan 1944 di Warsawa (Polandia)- sebenarnya bisa dijadikan obyek wisata untuk mengenang luka sejarah…. (MH SAMSUL HADI) Tempo 25/XXXVII 11 Agustus 2008 Kerani yang Baik Hati PENDENGARANNYA tak lagi sempurna. Ingatannya pun telah memudar. Dia hanya menggelengkan kepala ketika ditanyai soal usianya. Parino, dalam kartu tanda penduduk, lahir di Purworejo pada Februari 1917. Sedangkan data Romusha Kecamatan Bayah mencatat nama Amat Parino kelahiran Purworejo 1924. Parino kini tinggal di Kampung Pulo Manuk, Desa Darmasari, Bayah, Banten Selatan—sekitar 230 kilometer dari Jakarta. Dia diboyong dari Purworejo, Jawa Tengah, untuk bekerja di bagian lubang tambang batu bara. Parino tidak tahu persis usianya ketika itu. Yang diingatnya, ”Saya belum menikah, tapi sudah disunat,” ujarnya sambil tertawa. Bayah menjadi tempat berkumpul romusha dan pegawai pertambangan sejak Jepang mengeksploitasi tambang batu bara pada 1 April 1943. Pada awal penambangan, sekitar 20 ribu orang datang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Parino. Di kawasan pesisir selatan inilah Ibrahim Datuk Tan Malaka singgah dan bekerja sebagai juru tulis. Tan Malaka datang ke Bayah pada Juni 1943. Dia dikenal masyarakat Bayah dengan nama samaran Ilyas Hussein. Parino lamat-lamat mengingat nama Hussein sebagai seorang kerani atau juru tulis. ”Kalau enggak salah, orangnya sangat pintar,” kata Parino. Bayah dengan luas sekitar 15 ribu hektare menjadi satu-satunya tempat yang mengandung batu bara di Pulau Jawa sebelum Jepang datang. Belanda telah memberikan izin membuka tambang kepada perusahaan swasta sejak 1903, tapi belum mengeksploitasinya. Sebelum 1942, kebutuhan batu bara di Jawa dipasok dari Sumatera dan Kalimantan. Namun angkutan pelayaran Jepang banyak terpakai oleh kepentingan perang. Jepang ingin Jawa mandiri dalam memenuhi kebutuhan batu bara. Jepang membuka tambang lewat perusahaan Sumitomo. Mereka membuka jalur kereta api dari Saketi, Pandeglang, menuju Bayah—sekitar 90 kilometer. Dari Bayah, kereta bersambung menuju ke lokasi penambangan seperti Gunung Madur, Tumang, dan Cihara. Kini beberapa lokasi masih ditambang penduduk, sedangkan yang lain terbengkalai begitu saja. Tan bekerja di Bayah setelah melamar ke kantor Sosial. Dia butuh penghasilan sekaligus tempat bersembunyi. Waktu itu, perusahaan di Bayah membutuhkan 30 pekerja—bukan romusha. Tan melamar tanpa ijazah. Dia mengaku bersekolah di MULO (setara dengan sekolah menengah pertama) dua tahun dan pernah menjadi juru tulis di Singapura. Tan lulus dengan menyisihkan 50 pelamar. Tan berangkat dengan kereta api dari Tanah Abang, berakhir di Stasiun Saketi. Saat itu kereta rute Saketi-Bayah belum beroperasi. Dia lalu meneruskan perjalanan dengan truk. Dalam memoarnya, Dari Penjara ke Penjara, Tan mendapat cerita tentang asal-usul Saketi. Kata Saketi berasal dari bahasa Sunda, yang artinya 100 ribu. Konon, 100 ribu itu mengacu pada ramalan tentang banyaknya korban selama pembuatan jalur kereta Saketi-Bayah. Jadi, kalau jarak Saketi ke Bayah 90 kilometer, ada satu nyawa melayang dalam satu meter rel. Stasiun Saketi menjadi tempat persimpangan kereta dari Jakarta menuju Bayah dan Labuan. Tempo—bersama penulis buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1925-1945 , Harry Albert Poeze—menelusuri rute perjalanan Tan dari Stasiun Saketi. Kini bangunan itu telah menjadi tempat tinggal anak kepala stasiun, Momo Mujaya, 58 tahun. Jalur Saketi-Bayah berhenti beroperasi pada 1950-an, disusul Saketi-Labuan sekitar 1980. Sesampai di Bayah, Tan indekos di rumah warga, sebelum menghuni gubuk kecil dari bambu. Dia selalu memakai celana pendek, kemeja dengan leher terbuka, kaus panjang, helm tropis, dan tongkat. Dia berbicara dengan bahasa Indonesia, tapi jarang tampil di depan umum. Tan sering menjelajahi pelosok, termasuk Pulo Manuk, enam kilometer dari Bayah. Tempat itu paling ditakuti, termasuk oleh tentara Jepang, karena penyakit kudis, disentri, dan malaria mewabah di sana. Waktu itu, penyakit dan kelaparan menjadi faktor utama kematian romusha di Bayah. Suatu saat, Tan pernah diminta mengurusi data pekerja. Dia sering berhubungan dengan romusha dan mencatat jumlah kematian mereka. Dalam memoarnya, Tan mencatat 400-500 romusha meninggal setiap bulan. Hingga akhir pendudukan Jepang, luas tempat pemakaman romusha mencapai 38 hektare. Keluar-masuk terowongan dan memberikan nasihat pentingnya kesehatan, Tan dikenal sebagai kerani yang baik hati. Dia suka membelikan makanan buat romusha dari upahnya sendiri. ”Kita dapat mempraktekkan rasa tanggung jawab terhadap golongan bangsa Indonesia yang menjadi korban militerisme Jepang,” kata Tan suatu ketika. Di dalam perusahaan, dia selalu mengusulkan peningkatan kesejahteraan romusha. Tan termasuk anti-Jepang, tapi tetap bergaul dengan mereka, termasuk penjabat direktur Kolonel Tamura. Dia mencoba berbicara mengenai kesejahteraan pekerja, tapi upayanya sia-sia. Romusha mendapat upah 0,40 gulden (40 sen) dan 250 gram beras setiap hari. Uang 40 sen hanya cukup buat membeli satu pisang. Dalam salah satu tulisannya, Rencana Ekonomi Berjuang, Tan mengatakan hitung-hitungan upah romusha hanya di atas kertas. Tulisan itu dia buat di Surabaya pada November 1945. Di situ Tan melukiskan kondisi romusha di Bayah lewat percakapan dua tokoh cerita, si Toke dan si Godam. ”Seratus ton arang itu diperoleh dengan makian bagero saja. Tanah, mesin, dan tenaga romusha pun digedor,” ucap si Godam. Ringkasnya, Jepang sama sekali tidak mengeluarkan bayaran romusha. Tan mencoba menggalang pemuda untuk memperbaiki nasib romusha. Dia menggagas dapur umum yang menyediakan makanan bagi seribu romusha. Mereka membangun rumah sakit di pinggiran Desa Bayah, Cikaret. Tan juga membuka kebun sayur dan buah-buahan di Tegal Lumbu, 30 kilometer dari Bayah. Peran Tan semakin besar ketika dia ditunjuk sebagai Ketua Badan Pembantu Keluarga Peta—organisasi sosial yang membantu tentara bentukan Jepang, Pembela Tanah Air (Peta). Di bawah panji Badan Pembantu, Tan lebih leluasa mengadakan kegiatan kemasyarakatan, seperti pertunjukan sandiwara atau sepak bola. Tim sandiwara dan sepak bola itu bernama Pantai Selatan. Pertunjukan sandiwara banyak bercerita tentang nasib romusha. Mereka pernah memainkan Hikayat Hang Tuah, Diponegoro, dan Puputan Bali. Tim sepak bola juga pernah tampil dalam kejuaraan di Rangkasbitung. Tan menggagas pembangunan lapangan sepak bola di Bayah—kini menjadi terminal. Ia menjadi pemain sayap. Tapi Tan lebih sering menjadi wasit. Selesai bermain, dia biasanya mentraktir para pemain. Pada September 1944, Soekarno dan Hatta berkunjung ke Bayah. Tan menjadi anggota panitia penyambutan tamu. Soekarno berpidato bahwa Indonesia bersama Jepang akan mengalahkan Sekutu. Setelah itu, Jepang memberikan kemerdekaan buat Indonesia. Soekarno meminta pekerja tambang membantu berjuang dengan meningkatkan produksi batu bara. Selesai pidato, moderator Sukarjo Wiryopranoto mempersilakan hadirin bertanya. Saat itu Tan sedang memilih kue dan minuman untuk para tamu. Para penanya rupanya sering mendapat jawaban guyon sinis. Kepada Son-co (Camat) Bayah, misalnya, Sukarjo mengejek supaya ikut kursus ”Pangreh Praja”. Tan gerah dengan suasana penuh ejekan itu. Dia pun menyimpan talam kue dan minuman di belakang, lalu bertanya: apakah tidak lebih tepat kemerdekaan Indonesialah kelak yang lebih menjamin kemenangan terakhir? Soekarno menjawab bahwa Indonesia harus menghormati jasa Jepang menyingkirkan tentara Belanda dan Sekutu. Tan membantah. Menurut dia, rakyat akan berjuang dengan semangat lebih besar membela kemerdekaan yang ada daripada yang dijanjikan. Tan melihat Soekarno jengkel. Menurut dia, Soekarno mungkin tidak pernah didebat ketika berpidato di seluruh Jawa. Apalagi bantahan itu dari Bayah, kota kecil di pesisir yang cuma dikenal karena urusan romusha dan nyamuk malaria. Tan ingin berbicara lebih panjang, tapi keburu dihentikan. Awal Juni 1945, Tan menerima undangan dari Badan Pembantu Keluarga Peta Rangkasbitung untuk membicarakan kemerdekaan. Pertemuan itu untuk memilih dan mengirimkan wakil Banten ke pertemuan Jakarta. Tan—sebagai Hussein—didaulat menjadi wakil Banten ke konferensi Jakarta. Pertemuan di Jakarta diadakan buat mempersatukan pemuda Jawa. Konferensi gagal terlaksana karena larangan Jepang. Tan hanya berbicara sebentar dengan kelompok pemuda angkatan baru, seperti Harsono Tjokroaminoto, Chaerul Saleh, Sukarni, dan B.M. Diah. Kembali ke Bayah, Tan pindah tugas ke kantor pusat dan mencatat data mengenai romusha. Suatu ketika, Jepang mengumumkan rencana pemotongan ransum. Tan lalu mengemukakan keberatannya dengan berorasi di muka umum. Besoknya, Jepang membatalkan pengurangan ransum. Di Jakarta, pidato Tan itu dikabarkan menjadi biang kerusuhan. Romusha melarikan diri dan mogok di Gunung Madur. Kempetai (polisi militer Jepang) di Bayah mulai mencari identitas Hussein. Tapi penyelidikan terhenti karena posisi Jepang kian genting. Jerman sudah menyerang dan Rusia menyerbu Jepang pada 9 Agustus 1945. Tan melihat aktivitas orang Jepang mulai longgar. Dia memanfaatkan situasi itu untuk minta izin hadir dalam konferensi pemuda di Jakarta pada 14 Agustus. Dia menjadi utusan semua pegawai pertambangan dan mendapatkan surat pengantar untuk Soekarno dan Hatta. Sesampai di Jakarta, dia hanya bertemu sebentar dengan Sukarni. Dia tidak mengetahui drama penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Setelah merdeka, Tan lebih banyak tinggal di Jakarta. Akhir Agustus, dia pergi ke Bayah mengunjungi pemimpin Peta, Djajaroekmantara. Tan Malaka ke Bayah juga punya tujuan lain, yakni mengambil naskah Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Poeze mengatakan naskah itu tersimpan rapi tanpa diketahui siapa pun. Di Bayah, kegiatan penambangan berangsur terhenti sepeninggal Jepang. Penduduk membumihanguskan Bayah saat agresi militer kedua Belanda pada 1948. Pemerintah setempat membuat tugu romusha pada 1950-an. ”Rasanya dulu lebih ramai ketimbang sekarang,” kata Haji Sukaedji, 73 tahun, warga kelahiran Bayah, kepada Tempo. Stasiun Bayah kini menjadi tanah kosong penuh ilalang…. TUGU TAN MALAKA DI BAYAH Perlu Mendapat Perhatian Republika Online, Sabtu, 17 Mei 2008 Tugu Tan Malaka di Bayah Selatan, Kecamatan Bayah, Lebak, Banten, sama misteriusnya seperti sang Tokoh, Tan Malaka. Tugu itu dibangun tahun 1940-an untuk memperingati kekejaman Romusha di Desa Bayah, Lebak. Kami menemukan Tugu tanpa perawatan ini secara tak sengaja, ketika sedang melakukan perjalanan silaturahmi untuk menemui Kyai Ahmad Choliq di Desa Bayah dari Pesantren Irsyadul Falah, Lebak, Banten. Tidak ada nama atau prasasti di Tugu itu membuat banyak orang memberi tafsir akan keberadaannya. Kondisi tugu bercat putih itu kini agak, retak-retak kaki penyangganya, dan rumput/ilalang di sekitar Tugu sudah tinggi. Keberadaanh Tugu itu memberi kebanggaan tersendiri bagi warga Bayah sejak dulu. Saksi hidup yang ada di Bayah yakin sekali bahwa Tugu ini dibuat oleh Tan Malaka, yang di sini dikenal sebagai sebagai Ilyas Husen atau Ibrahim Husen. Presiden RI pertama, Bung Karno, sudah memberi penghargaan gelar kepahlawanan kepada Tan Malaka melalui SK Presiden Nomor 53 tahun 1963 sebagai satu-satunya Pejuang Kemerdekaan Nasional. Sayangnya, perhatian pemerintah khususnya instansi terkait terhadap pemeliharaan Tugu Tan Malaka sangatlah minim. Saya menghimbau kepada instansi terkait agar memberi perhatian serius kepada keberadaan Tugu Tan Malaka. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. RH Soetomo Pimpinan Yayasan Dr RH Soetomo Antara News 21/08/07 18:56 Tujuh Korban Romusha Minta Dikunjungi Shinzo Abe Lebak (ANTARA News) – Tujuh kepala keluarga di Kabupaten Lebak meminta Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang berkunjung ke Jakarta mendatangi korban pekerja rodi Romusha untuk melihat secara fisik bekas kekejaman pasukan Jepang Tahun 1942 sampai 1945 lalu. “Saya berharap Shinzo Abe bertanggung-jawab kepada tujuh korban penyiksaan tentara Jepang saat membuka jalan kereta api Saketi-Bayah (80 Km), karena ribuan tenaga kerja romusha yang dikirim dari Jawa Tengah dan Jawa Timur mati kelaparan,” kata Ahmad Poniran (83) kepada ANTARA News di kediamannya di Pulau Manuk, Desa Darmasari, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Selasa. Ia mengkisahkan kekejaman pasukan Jepang menyebabkan penderitaan rakyat Indonesia, selain dibunuh juga diperkosa sehingga hal wajar jika Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyempatkan diri untuk mendatangi mereka. “Kami sebagai mantan Romusha berkeinginan dikunjungi Perdana Menteri Jepang yang saat ini berada di Indonesia untuk meminta maaf dan memberikan kompensasi jaminan hidup,” katanya. Saat ini, ujar dia, mantan Romusha yang ada di Kecamatan Bayah hanya menyisakan sebanyak tujuh kepala keluarga, sebab lainnya sudah meninggal dunia akibat dimakan usia. Saat ini para korban Romusha berharap adanya kepedulian pemerintah Jepang untuk membantu kesehatan maupun ekonomi karena semuanya sudah usia uzur dan sering sakit-sakitan, kata Ahmad Poniran sambil menyebutkan pasukan Jepang termasuk kejam dan sadis selama menjajah di Tanah Air. Akibat kekejaman itu hingga kini tangan sebelah kiri sudah tidak bisa digerakan lagi sehingga hal wajar pihaknya menuntut Shinzo Abe agar memberikan dana kerugian karena selama pekerja rodi tidak mendapatkan gajih sepersen pun. Minem (80) korban Romusha mengatakan, pihak pemerintah Jepang tetap harus bertanggung-jawab terhadap pekerja rodi karena pihaknya dijadikan budak sek untuk melayani para serdadu Jepang. “Kami hanya meminta dana kerugian saja, sebab kami dibawa ke Kabupaten Lebak dipekerjakan menjadi romusha oleh tentara Jepang itu,” kata Poniem bersama kakaknya Sidi (83) yang mengaku berasal dari Desa Ngasem, Kecamatan Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah, yang kini mendiami rumah sederhana terbuat dari bambu di Desa Darmasari, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak.
Baca Selanjutnya Tentang - Kisah Tan Malaka di Bayah, Lebak, Banten

Daftar Nama Kecamatan Kelurahan/Desa & Kodepos Di Kota/Kabupaten Lebak Banten

Kota/Kabupaten : Lebak 1. Kecamatan Banjarsari Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Banjarsari di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Banjarsari (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Bendungan (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Bojongjuruh (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Cibaturkeusik (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Cidahu (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Cilegong Ilir (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Ciruji (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Cisampih (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Gunungsari (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Jalupang Girang (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Kerta (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Kertaraharja (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Keusik (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Kumpay (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Lebakkeusik (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Leuwiipuh (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Tamansari (Kodepos : 42355) 2. Kecamatan Bayah Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Bayah di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Bayah Barat (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Bayah Timur (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Cidikit (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Cimancak (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Cisuren (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Darmasari (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Pasirgombong (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Sawarna (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Suwakan (Kodepos : 42393) 3. Kecamatan Bojongmanik Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Bojongmanik di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Bojongmanik (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Cimayang (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Harjawana (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Kadurahayu (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Keboncau (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Mekarmanik (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Parakanbeusi (Kodepos : 42363) 4. Kecamatan Cibadak Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cibadak di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Kaduagung Barat (Kodepos : 42318) - Kelurahan/Desa Kaduagung Timur (Kodepos : 42318) - Kelurahan/Desa Asem (Kodepos : 42357) - Kelurahan/Desa Bojongcae (Kodepos : 42357) - Kelurahan/Desa Bojongleles (Kodepos : 42357) - Kelurahan/Desa Cibadak (Kodepos : 42357) - Kelurahan/Desa Cisangu (Kodepos : 42357) - Kelurahan/Desa Malabar (Kodepos : 42357) - Kelurahan/Desa Panancangan (Kodepos : 42357) - Kelurahan/Desa Pasar Keong (Kodepos : 42357) - Kelurahan/Desa Tambakbaya (Kodepos : 42357) 5. Kecamatan Cibeber Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cibeber di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Cibeber (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Cihambali (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Cikadu (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Cikotok (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Cisungsang (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Citorek Barat (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Citorek Kidul (Ciusul) (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Citorek Tengah (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Citorek Timur (Ciparay) (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Girimukti (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Gunungwangun (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Hegarmanah (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Kujangjaya (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Kujangsari (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Mekarsari (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Neglasari (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Sinargalih (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Situmulya (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Sukamulya (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Warnasari (Kodepos : 42394) - Kelurahan/Desa Warungbanten (Kodepos : 42394) 6. Kecamatan Cigemblong Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cigemblong di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Cibungur (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Cigemblong (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Cikadongdong (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Cikaret (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Cikate (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Mugijaya (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Peucangpari (Kodepos : 42395) 7. Kecamatan Cihara Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cihara di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Cihara (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Ciparahu (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Citepuseun (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Karangkamulyan (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Lebak Peundeuy (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Mekarsari (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Panyaungan (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Pondokpanjang (Kodepos : 42392) 8. Kecamatan Cijaku Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cijaku di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Ciapus (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Cibeureum (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Cihujan (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Cijaku (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Cikaratuan (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Cimega (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Cipalabuh (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Kandangsapi (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Kapunduhan (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Mekarjaya (Kodepos : 42395) - Kelurahan/Desa Sukasenang (Kodepos : 42395) 9. Kecamatan Cikulur Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cikulur di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Anggalan (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Cigoong Selatan (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Cigoong Utara (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Cikulur (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Curugpanjang (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Muaradua (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Muncangkopong (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Parage (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Pasirgintung (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Sukadaya (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Sukaharja (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Sumurbandung (Kodepos : 42356) - Kelurahan/Desa Taman Jaya (Kodepos : 42356) 10. Kecamatan Cileles Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cileles di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Banjarsari (Kodepos : 42353) - Kelurahan/Desa Cikareo (Kodepos : 42353) - Kelurahan/Desa Cileles (Kodepos : 42353) - Kelurahan/Desa Cipadang (Kodepos : 42353) - Kelurahan/Desa Daroyon (Kodepos : 42353) - Kelurahan/Desa Gumuruh (Kodepos : 42353) - Kelurahan/Desa Kujangsari (Kodepos : 42353) - Kelurahan/Desa Margamulya (Kodepos : 42353) - Kelurahan/Desa Mekarjaya (Kodepos : 42353) - Kelurahan/Desa Parungkujang (Kodepos : 42353) - Kelurahan/Desa Pasindangan (Kodepos : 42353) - Kelurahan/Desa Prabugantungan (Kodepos : 42353) 11. Kecamatan Cilograng Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cilograng di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Cibareno (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Cijengkol (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Cikamunding (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Cikatomas (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Cilograng (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Cireundeu (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Girimukti (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Gunungbatu (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Lebaktipar (Kodepos : 42393) - Kelurahan/Desa Pasirbungur (Kodepos : 42393) 12. Kecamatan Cimarga Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cimarga di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Cimarga (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Girimukti (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Gunung Anten (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Inten Jaya (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Jayamanik (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Jayasari (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Karya Jaya (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Marga Jaya (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Margaluyu (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Margatirta (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Mekar Jaya (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Sangiang Jaya (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Sangkan Manik (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Sarageni (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Sudamanik (Kodepos : 42361) - Kelurahan/Desa Tambak (Kodepos : 42361) 13. Kecamatan Cipanas Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cipanas di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Bintangresmi (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Bintangsari (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Cipanas (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Giriharja (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Girilaya (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Harumsari (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Haurgajrug (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Jayapura (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Luhurjaya (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Malangsari (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Pasirhaur (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Sipayung (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Sukasari (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Talagahiang/Talagahiyang (Kodepos : 42372) 14. Kecamatan Cirinten Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cirinten di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Badur (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Cempaka (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Cirinten (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Datarcae (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Kadudamas (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Karangnunggal (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Nangerang (Kodepos : 42363) - Kelurahan/Desa Parakanlima (Kodepos : 42363) 15. Kecamatan Curugbitung Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Curugbitung di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Candi (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Ciburuy (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Cidadap (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Cilayang (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Cipining (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Curugbitung (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Guradog (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Lebakkasih (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Mayak (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Sekarwangi (Kodepos : 42381) 16. Kecamatan Gunung Kencana Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Gunung Kencana di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Bojongkoneng (Kodepos : 42354) - Kelurahan/Desa Bulakan (Kodepos : 42354) - Kelurahan/Desa Ciakar (Kodepos : 42354) - Kelurahan/Desa Cicaringin (Kodepos : 42354) - Kelurahan/Desa Ciginggang (Kodepos : 42354) - Kelurahan/Desa Cimanyangray (Kodepos : 42354) - Kelurahan/Desa Cisampang (Kodepos : 42354) - Kelurahan/Desa Gunung Kencana (Kodepos : 42354) - Kelurahan/Desa Gunungkendeng (Kodepos : 42354) - Kelurahan/Desa Keramatjaya/Kramatjaya (Kodepos : 42354) - Kelurahan/Desa Sukanegara (Kodepos : 42354) - Kelurahan/Desa Tanjungsari Indah (Kodepos : 42354) 17. Kecamatan Kalanganyar Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Kalanganyar di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Cikatapis (Kodepos : 42311) - Kelurahan/Desa Aweh (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Cilangkap (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Kalanganyar (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Pasirkupa (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Sangiang Tanjung (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Sukamekarsari (Kodepos : 42312) 18. Kecamatan Lebakgedong Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Lebakgedong di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Banjarsari (Kodepos : 42355) - Kelurahan/Desa Banjar Irigasi (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Ciladaeun (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Lebakgedong (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Lebaksangka (Kodepos : 42372) - Kelurahan/Desa Lebaksitu (Kodepos : 42372) 19. Kecamatan Leuwidamar Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Leuwidamar di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Bojong Menteng (Kodepos : 42362) - Kelurahan/Desa Cibungur (Kodepos : 42362) - Kelurahan/Desa Cisimeut (Kodepos : 42362) - Kelurahan/Desa Cisimeut Raya (Kodepos : 42362) - Kelurahan/Desa Jalupang Mulya (Kodepos : 42362) - Kelurahan/Desa Kanekes (Kodepos : 42362) - Kelurahan/Desa Lebak Parahiang (Kodepos : 42362) - Kelurahan/Desa Leuwidamar (Kodepos : 42362) - Kelurahan/Desa Margawangi (Kodepos : 42362) - Kelurahan/Desa Nayagati (Kodepos : 42362) - Kelurahan/Desa Sangkanwangi (Kodepos : 42362) - Kelurahan/Desa Wantisari (Kodepos : 42362) 20. Kecamatan Maja Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Maja di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Binong (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Cilangkap (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Curug Badak (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Gubugcibeureum (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Maja (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Mekarsari (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Padasuka (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Pasir Kecapi (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Pasir Kembang (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Sangiang (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Sindangmulya (Kodepos : 42381) - Kelurahan/Desa Tanjung Sari (Kodepos : 42381) 21. Kecamatan Malingping Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Malingping di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Cipeundeuy (Kodepos : 42313) - Kelurahan/Desa Bolang (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Cilangkahan (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Kadujajar (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Kersaratu (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Malingping Selatan (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Malingping Utara (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Pagelaran (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Rahong (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Sanghiang (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Senanghati (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Sukamanah (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Sukaraja (Kodepos : 42391) - Kelurahan/Desa Sumber Waras (Kodepos : 42391) 22. Kecamatan Muncang Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Muncang di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Cikarang (Kodepos : 42364) - Kelurahan/Desa Ciminyak (Kodepos : 42364) - Kelurahan/Desa Karangcombong (Kodepos : 42364) - Kelurahan/Desa Leuwicoo (Kodepos : 42364) - Kelurahan/Desa Muncang (Kodepos : 42364) - Kelurahan/Desa Pasirnangka (Kodepos : 42364) - Kelurahan/Desa Sindangwangi (Kodepos : 42364) - Kelurahan/Desa Sukanagara (Kodepos : 42364) 23. Kecamatan Panggarangan Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Panggarangan di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Cimandiri (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Gunung Gede (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Hegarmanah (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Jatake (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Mekarjaya (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Panggarangan (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Sindangratu (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Situragen (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Sogong (Kodepos : 42392) - Kelurahan/Desa Sukajadi (Kodepos : 42392) 24. Kecamatan Rangkasbitung Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Rangkasbitung di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Muara Ciujung Barat (Kodepos : 42311) - Kelurahan/Desa Cimangeungteung (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Citeras (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Kolelet Wetan (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Mekarsari (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Nameng (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Pabuaran (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Pasirtanjung (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Rangkasbitung Barat (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Sukamanah (Kodepos : 42312) - Kelurahan/Desa Rangkasbitung Timur (Kodepos : 42313) - Kelurahan/Desa Muara Ciujung Timur (Kodepos : 42314) - Kelurahan/Desa Jatimulya (Kodepos : 42315) - Kelurahan/Desa Cijoro Pasir (Kodepos : 42316) - Kelurahan/Desa Cijoro Lebak (Kodepos : 42317) 25. Kecamatan Sajira Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Sajira di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Bangunmekar (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Calungbungur (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Ciuyah (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Maraya (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Margaluyu (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Mekarsari (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Paja (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Pajagan (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Parungsari (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Sajira (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Sajiramekar (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Sindangsari (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Sukajaya (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Sukamarga (Kodepos : 42371) - Kelurahan/Desa Sukarame (Kodepos : 42371) 26. Kecamatan Sobang Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Sobang di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Sindanglaya (Kodepos : 42315) - Kelurahan/Desa Cilebang (Kodepos : 42318) - Kelurahan/Desa Cirompang (Kodepos : 42318) - Kelurahan/Desa Citujah (Kodepos : 42318) - Kelurahan/Desa Hariang (Kodepos : 42318) - Kelurahan/Desa Majasari (Kodepos : 42318) - Kelurahan/Desa Sobang (Kodepos : 42318) - Kelurahan/Desa Sukajaya (Kodepos : 42318) - Kelurahan/Desa Sukamaju (Kodepos : 42318) - Kelurahan/Desa Sukaresmi (Kodepos : 42318) 27. Kecamatan Wanasalam Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Wanasalam di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Bejod (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Cikeusik (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Cilangkap (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Cipedang (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Cipeucang (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Cisarap (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Karangpamindangan (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Ketapang (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Muara (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Parungpanjang (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Parungsari (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Sukatani (Kodepos : 42396) - Kelurahan/Desa Wanasalam (Kodepos : 42396) 28. Kecamatan Warunggunung Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Warunggunung di Kota/Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : - Kelurahan/Desa Banjarsari (Kodepos : 42352) - Kelurahan/Desa Baros (Kodepos : 42352) - Kelurahan/Desa Cempaka (Kodepos : 42352) - Kelurahan/Desa Cibuah (Kodepos : 42352) - Kelurahan/Desa Jagabaya (Kodepos : 42352) - Kelurahan/Desa Padasuka (Kodepos : 42352) - Kelurahan/Desa Pasirtangkil (Kodepos : 42352) - Kelurahan/Desa Selaraja (Kodepos : 42352) - Kelurahan/Desa Sindangsari (Kodepos : 42352) - Kelurahan/Desa Sukaraja (Kodepos : 42352) - Kelurahan/Desa Sukarendah (Kodepos : 42352) - Kelurahan/Desa Warunggunung (Kodepos : 42352)
Baca Selanjutnya Tentang - Daftar Nama Kecamatan Kelurahan/Desa & Kodepos Di Kota/Kabupaten Lebak Banten

Ilyas Hussain = Tan Malaka Dari Bayah

IA memperkenalkan dirinya sebagai Ilyas Hussein. Datang dari Bayah, Banten Selatan, pria paruh baya itu bertamu ke rumah Sukarni di Jalan Minangkabau, Jakarta, awal Juni 1945. Di sana sudah ada Chaerul Saleh, B.M. Diah, Anwar, dan Harsono Tjokroaminoto. Tamu jauh itu hendak menghadiri kongres pemuda di Jakarta. Memakai baju kaus, celana pendek hitam, dan topi perkebunan ditenteng di tangan, tamu itu disambut tuan rumah. Setelah sedikit basa-basi, Hussein menyampaikan analisisnya tentang kemerdekaan dan politik saat itu. Situasi memang lagi genting. Penjajah Jepang sudah di tubir jurang. Ulasan Hussein tentang proklamasi membuat Sukarni terpukau. Pikiran Hussein sama persis dengan tulisan-tulisan Tan Malaka yang selama ini dipelajari Sukarni. Setelah mendengar analisis Hussein, Sukarni makin mantap: proklamasi harus segera diumumkan. Sejarah mencatat, Hussein adalah Ibrahim Sutan Datuk Tan Malaka yang tengah menyamar. Sejak awal Sukarni curiga, tamunya tak mungkin hanya orang biasa—meski ia tak berani bertanya. ”Ia heran, bagaimana mungkin orang sekaliber Hussein hidup di wilayah terpencil,” kata sejarawan Belanda Harry A. Poeze. Karni malah waswas. ”Ia takut kalau Hussein mata-mata Jepang,” kata Anwar Bey, bekas wartawan Antara dan koresponden Buletin Murba. Kekhawatiran yang campur aduk memaksa Sukarni memindahkan rapat ke rumah Maruto Nitimihardjo di Jalan Bogor Lama—sekarang Jalan Saharjo, Jakarta Selatan. Sebelum pergi, Sukarni meminta tamunya menginap satu malam. Hussein tidur di kamar belakang. Pada saat rapat, analisis Hussein mempengaruhi pikiran Sukarni. Ide-ide Hussein dilontarkannya dalam rapat. ”Sukarni mendesak proklamasi jangan ditunda,” kata Adam Malik. Para pemuda setuju. Sepulang rapat, Sukarni masih penasaran pada Hussein. Tapi lagi-lagi ia ragu bertanya. Sukarni baru bertemu besok paginya ketika tamunya mau pulang. ”Ia berpesan agar Hussein mempersiapkan pemuda Banten menyongsong proklamasi,” kata Anwar Bey, kini 79 tahun. Kesaksian itu terungkap pada saat Sukarni memberikan sambutan dalam acara Sewindu Hilangnya Tan Malaka di Restoran Naga Mas, Bandung, Februari 1957. Anwar Bey malam itu hadir di sana. Dari pertemuan itu, Tan sendiri menafsirkan, Chaerul dan Sukarni mengenal ide-ide politiknya. Tapi ia belum berani membuka jati diri. ”Saya masih menunggu kesempatan yang lebih tepat,” katanya dalam memoar Dari Penjara ke Penjara. Ia lalu pulang ke Bayah, kembali bekerja sebagai juru ketik. Nama Hussein tetap digunakan. Saat itu usianya 48 tahun. l l l HUSSEIN kembali muncul di Jakarta pada 6 Agustus 1945. Ia membawa tas. Isinya celana pendek selutut, kemeja, dan kaus lengan panjang kumal. Kali ini yang dituju rumah B.M. Diah, Ketua Angkatan Baru, yang juga redaktur koran Asia Raya, satu-satunya koran yang terbit di Jakarta. Utusan Bayah itu menanyakan kabar mutakhir situasi perang. Setelah satu jam Diah memberikan informasi, Hussein menyatakan pendapatnya. ”Pimpinan revolusi kemerdekaan harus di tangan pemuda,” katanya. Tapi hubungan Hussein dengan Diah berlangsung singkat. Besoknya Diah ditangkap Jepang gara-gara menuntut kemerdekaan dan menentang sikap lunak Soekarno-Hatta. Tahu Diah ditangkap, Hussein pulang ke Bayah. Di sana ia terus bergerak. Tiga hari kemudian dia terlibat rapat rahasia dengan para pemuda Banten di Rangkasbitung. Pertemuan satu setengah jam itu digelar di rumah M. Tachril, pegawai Gemeenschappelijk Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken—Gabungan Perusahaan Listrik Bandung dan Sekitarnya. Di sini Hussein mengobarkan pidato yang menggelora. ”Kita bukan kolaborator!” katanya. ”Kemerdekaan harus direbut kaum pemuda, jangan sebagai hadiah.” Kekalahan Jepang, menurut dia, tinggal menunggu waktu. Pidato itu dilukiskan Poeze dalam buku terbarunya Verguisd en Vergeten Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. ”Sebagai rakyat Banten dan pemuda yang telah siap merdeka, kami bersumpah mewujudkan proklamasi itu,” kata Hussein di ujung pidatonya. Bila Soekarno-Hatta tidak mau menandatangani, Hussein memberikan jawaban tegas: ”Saya sanggup menandatanganinya, asal seluruh rakyat dan bangsa Indonesia menyetujui dan mendukung saya.” Hussein diutus kembali ke Jakarta. Ia diminta menjalin kontak dengan Sukarni dan Chaerul Saleh. Peserta rapat mengantarnya ke stasiun Saketi, Pandeglang. Hussein naik kereta ke Jakarta. l l l SITUASI Jakarta tidak menentu. Kebenaran dan desas-desus berkelindan satu sama lain. Kempetai, polisi militer Jepang, mengintai di mana-mana. Para pemuda bergerak di bawah tanah, bersembunyi dari satu rumah ke rumah lain. Usaha Tan Malaka menjalin kontak dengan pemuda tak kesampaian. Kesulitan Tan bertambah karena kehadirannya tempo hari di rumah Sukarni menyebar dan menjadi pergunjingan. Para pemuda bingung siapa sebenarnya Ilyas Hussein. Karena itu para pemuda jaga jarak bila Hussein muncul. Peluang Tan menjalin kontak kian teruk karena sikap hati-hatinya yang berlebihan. Sebagai bekas orang buangan dan lama hidup dalam pelarian, Hussein merasa di bawah bayang-bayang penangkapan. Tan akhirnya berhasil menemui Sukarni di rumahnya pada 14 Agustus sore. Ia mengusulkan agar massa pemuda dikerahkan. Tapi Sukarni sibuk. Di rumah itu banyak orang keluar-masuk. Banyak pula hal yang disembunyikannya, termasuk berita takluknya Jepang. Ia juga khawatir rumahnya digerebek Kempetai. Itu sebabnya, Sukarni pergi meninggalkan Hussein. Seperti sebelumnya, ia diminta menunggu di kamar belakang. Kali ini bersama dua orang yang tak dikenal. Salah satunya Khalid Rasyidi, aktivis pemuda Menteng 31. Menurut Khalid, Hussein sempat bertanya di mana tempat penyimpanan senjata Jepang. ”Ia menganjurkan perampasan senjata dalam rangka perjuangan kemerdekaan,” kata Khalid dalam ceramah di Gedung Kebangkitan Nasional, Agustus 1978. Khalid juga yakin, Sukarni sudah tahu bahwa Hussein tak lain Tan Malaka. Soalnya, sebelum Khalid diminta menemui utusan Banten itu, Sukarni agak lama menunjukkan foto lama orang-orang pergerakan. ”Di antaranya foto Tan Malaka waktu masih muda,” kata Khalid. Poeze menyangsikan hal itu. Menurut dia, Sukarni hanya menduga-duga. Malam itu Sukarni sempat pulang. Tapi setelah itu menghilang. Hussein besoknya berusaha menemui Chaerul Saleh di Jalan Pegangsaan Barat 30, tapi Chaerul tidak ada di rumah. Karena di sepanjang jalan santer terdengar kabar Jepang menyerah perang, Hussein kembali ke rumah Sukarni. Tapi usahanya sia-sia. Hussein tidak tahu, Sukarni dan Chaerul akan menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Aksi itu dilakukan karena Soekarno-Hatta ngotot proklamasi dilakukan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sedangkan pemuda ingin merdeka tanpa campur tangan Jepang. Setelah berdebat di Rengasdengklok, Soekarno-Hatta bersedia meneken proklamasi. Teks proklamasi disiapkan di rumah Laksamana Maeda. Naskah itu besoknya dibacakan di pekarangan rumah Soekarno, di Pegangsaan Timur 56. Upacara berlangsung singkat. Penguasa militer Jepang melarang berita proklamasi meluas di radio dan surat kabar. Itu sebabnya, Tan tidak tahu ada proklamasi. Ia tahu setelah orang ramai membicarakannya di jalan-jalan. Terbatasnya peran Tan itu, kata Poeze, sungguh ironis. Padahal Tan orang Indonesia pertama yang menggagas konsep republik dalam buku Naar de Republiek Indonesia, yang ditulis pada 1925. Buku kecil ini kemudian menjadi pegangan politik tokoh pergerakan, termasuk Soekarno. Dalam buku Riwayat Proklamasi Agustus 1945, Adam Malik melukiskan peristiwa itu sebagai ”kepedihan riwayat”. Sukarni bertahun-tahun membaca buku politik Tan. Tapi pada saat ia membutuhkan pikiran dari orang sekaliber Tan, Sukarni sungkan bertanya siapa Hussein sesungguhnya. ”Ia malah membiarkannya pergi jalan kaki, lepas dari pandangan mata,” kata Adam Malik. Tan juga tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. ”Rupanya sejarah proklamasi 17 Agustus tidak mengizinkan saya campur tangan, hanya mengizinkan campur jiwa saja. Ini sangat saya sesalkan! Tetapi sejarah tidak mempedulikan penjelasan seorang manusia atau segolongan manusia.” l l l Setelah proklamasi, Tan berusaha menemui pemuda. Tapi mereka terus bergerak di bawah tanah. Pada 25 Agustus Tan akhirnya datang ke rumah Ahmad Soebardjo di Jalan Cikini Raya 82. Keduanya pernah bertemu di Belanda pada 1919. ”Pembantu kami mengatakan ada tamu ingin berjumpa,” kata Soebardjo. Tamu itu duduk di pojok ruangan. Soebardjo kaget. ”Wah, kau Tan Malaka,” katanya. ”Saya kira sudah mati.” Tan menjawab sambil tertawa. ”Alang-alang tak akan musnah kalau tidak dicabut dengan akar-akarnya.” Setelah sempat bersenda-gurau, Soebardjo menawari Tan tinggal di paviliun rumahnya. Sejak itu Tan diperkenalkan kepada beberapa tokoh seperti Iwa Koesoema Soemantri, Gatot Taroenamihardjo, Boentaran Martoatmojo. Ia juga dipertemukan dengan Nishijima Shigetada, Asisten Laksamana Maeda. Di depan Nishijima, ia bicara tentang revolusi, struktur politik, gerakan massa, hingga propaganda. Nishijima terheran-heran. ”Bagaimana mungkin orang yang tampak seperti petani ini bisa menganalisis segala-galanya dengan begitu tajam,” katanya. Setelah lebih dari dua jam berbincang, Soebardjo menjelaskan bahwa kawannya ini tak lain Tan Malaka. Nishijima terkejut. Ia bangkit lalu menjabat tangan Tan lebih erat. Kepada tamunya, Soebardjo meminta keberadaan Tan dirahasiakan. Sepekan menetap di rumah Soebardjo, lewat perantara Nishijima, Tan pindah ke rumah pegawai angkatan laut Jepang di Jalan Theresia. Ia sempat ke Banten membangun jaringan gerilya, lalu balik ke Jakarta. Pada pekan kedua September, ia pindah ke Kampung Cikampak, 18 kilometer sebelah barat Bogor. Sejak itu ia bolak-balik ke Jakarta. Di Jakarta, kaum pemuda terus bergerak. Mereka melihat pemerintah tidak bekerja mengisi kemerdekaan meski kabinet telah dibentuk. ”Mereka cuma kumpul-kumpul di gedung Pegangsaan,” kata Adam Malik. ”Seperti tidak ada rencana.” Itu sebabnya, sebagian pemuda mengusulkan demonstrasi. Tapi sebagian lain ingin membentuk Palang Merah dan mengurus tawanan perang. Pemuda yang berkumpul di Jalan Prapatan 10, sekarang Jalan Kwitang, terbelah. Pemuda prodemonstrasi meninggalkan Jalan Prapatan menuju Menteng 31. ”Ini kesempatan kita mempraktekkan Massa Actie,” kata Sukarni mengutip buku Tan yang menjadi pegangan pemuda. Setelah itu mereka membentuk Komite van Actie. Komite ini mengambil alih sarana transportasi dan mengibarkan bendera Merah-Putih di mana-mana. Karena kabinet belum ada kegiatan, Soebardjo—saat itu sudah Menteri Luar Negeri—meminta nasihat Tan yang lalu mengusulkan agar propaganda dilakukan lewat semboyan-semboyan. ”Tan ikut mengusulkan kata-katanya,” kata Hadidjojo Nitimihardjo, putra Maruto. Semboyan itu ditulis pemuda di tembok-tembok, mobil, dan kereta api hingga tersebar ke luar Jakarta, dibuat dalam bahasa Indonesia dan Inggris agar menarik perhatian dunia. Sejak itu Soekarno mendengar kemunculan Tan. Ia meminta Sayuti Melik mencarinya. Dua tokoh itu akhirnya diam-diam bertemu dua kali pada awal September 1945. Pertemuan itu menjadi rahim lahirnya testamen politik. Isinya: ”Bila Soekarno-Hatta tidak berdaya lagi, pimpinan perjuangan akan diteruskan oleh Tan, Iwa Koesoema, Sjahrir, dan Wongsonegoro.” Kasak-kusuk kehadiran Tan makin santer. Para pemuda membicarakannya di Menteng 31. Tan saat itu tinggal di rumah Pak Karim, tukang jahit di Bogor. Sukarni dan Adam Malik mencarinya ke sana. Mereka berhasil bertemu, tapi ragu identitas Tan. ”Apalagi saat itu banyak muncul Tan Malaka palsu,” kata Hadidjojo. Untuk memastikan, para pemuda membawa Soediro—kenalan Tan di Semarang pada 1922—beberapa hari kemudian. Sesudah itu mereka membawa guru Halim, teman sekolah Tan di Bukittinggi. Tan juga dicecar soal Massa Actie karena banyak Tan Malaka palsu tidak bisa menjelaskan isi buku tersebut. Maruto bahkan menyarankan agar pemuda tidak begitu saja mempercayai Tan. Ia rupanya mendengar Tan sudah bertemu Soekarno. Tapi setelah mendengar kata-kata Tan, kaum pemuda yakin tokoh legendaris itu anti-fasis. Tan juga sepakat dengan aksi pemuda Menteng 31. ”Ia mengusulkan demonstrasi yang lebih besar,” kata Hadidjojo. Demonstrasi digelar untuk mengukur seberapa kuat rakyat mendukung proklamasi. Ide ini melecut pemuda menggelar rapat akbar di Lapangan Ikada. ”Tan berada di balik layar,” kata Poeze. Pemuda mendapat kuliah dari Tan tentang perjuangan revolusioner. Persinggungan pemuda dengan Tan berlangsung antara 8 dan 15 September 1945. Sekelompok pemuda, antara lain Abidin Effendi, Hamzah Tuppu, Pandu Kartawiguna, dan Syamsu Harya Udaya, diperkenalkan kepada Tan. Sukarni lalu mengirim Hamzah, Syamsu, dan Abidin ke Surabaya untuk mengorganisasi para pelaut. Di Jakarta, kelompok pemuda menggelar rapat. Mereka menyiapkan demonstrasi pada 17 September—tepat sebulan setelah proklamasi. Tapi unjuk rasa diundur dua hari. Ada anekdot, tanggal itu dipilih karena para pemuda jengkel dimaki-maki Bung Karno bulan sebelumnya. ”Bung Karno marah karena pemuda menggelar pawai di taman Matraman pakai obor dua hari setelah proklamasi,” kata Hadidjojo mengutip Maruto, ayahnya. Pamflet aksi disebar dan ditempel di mana-mana. Sukarni keluar-masuk kampung, menemui kepala desa, tokoh masyarakat, pemuda, hingga kiai, agar datang ke Lapangan Ikada. Mahasiswa meminta Soekarno hadir juga. Tapi presiden pertama itu menolak. Pada hari yang ditentukan, massa berbondong-bondong datang. Senapan mesin Jepang dibidikkan ke arah kerumunan. Tapi gelombang massa terus berdatangan. Jumlahnya diperkiran 200 ribu. Di bawah terik, mereka menunggu berjam-jam. Salah satu yang hadir almarhum Pramoedya Ananta Toer. ”Itulah pertama kali saya saksikan orang Indonesia tidak takut lagi pada Dai Nippon,” kata Pram, saat itu berusia 20. Sementara sidang kabinet pagi itu terbelah. Sebagian menteri setuju hadir di Ikada. Sedangkan yang menolak takut ada pertumpahan darah. Rapat berjalan alot. Pukul empat sore, Soekarno memutuskan datang menenteramkan rakyat yang sudah menunggu berjam-jam. ”Saya tidak akan memaksa. Menteri yang mau tinggal di rumah silakan,” katanya. Rombongan Soekarno-Hatta pergi menuju Ikada. Poeze menduga, Tan Malaka ikut dalam rombongan. ”Ia satu-satunya yang memakai topi, jalan berdampingan dengan Soekarno menuju podium,” kata Poeze. Di mimbar Soekarno berpidato lima menit. Suaranya lunak. Ia meminta rakyat tetap tenang dan percaya pada pemerintah, yang akan mempertahankan proklamasi. Massa diminta pulang. Setelah itu, barisan bubar meninggalkan lapangan. Hasil demonstrasi itu menyesakkan Tan. Pidato itu, katanya, tidak menggemborkan semangat berjuang. ”Tidak mencerminkan massa aksi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.”
Baca Selanjutnya Tentang - Ilyas Hussain = Tan Malaka Dari Bayah

Mengenal Tugu Romusha di Bayah Banten Selatan

BAYAH memiliki sejarah kelam tiga tahun sebelum kemerdekaan. Pada saat ribuan warga di Pulau Jawa dipekerjakan secara paksa oleh bala tentara Jepang. Pekerja paksa ini dikenal dengan istilah romusha.Wisata sejarah romusha pun coba dikembangkan. Bukan untuk mengenang luka lama, gagasan yang ditelurkan Camat Bayah Muhammad Soleh ini untuk menjadikan peninggalan romusha itu sebagai wisata sejarah.”Ini untuk dijadikan renungan bagi cucu-cucu kita agar bisa menghargai sejarah.Karena mereka (romusha) Jalan Raya Saketi- Bayah itu ada,” kata Soleh kepada SINDOpada pertengahan pekan ini. Mengawali pengembangan wisata sejarah itu,Soleh secara pribadi tengah memperbaiki Tugu Romusha yang terdapat di sebelah Kantor Kecamatan Bayah.”Tugu Romusha adalah monumen yang patut dirawat karena memiliki nilai sejarah,” ujarnya. Selain itu, Tugu Romusha akan menjadi tanda menuju lokasi wisata pantai di Kecamatan Bayah. Tahap berikutnya melakukan pencarian 19 titik lubang bekas penggalian batu bara di Gunung Madur.Kawasan ini dijadikan kuburan massal para korban romusha yang tewas karena kelaparan dan penyiksaan. ”Jika sudah kami temukan, kami juga berencana membangun tanda di lubang-lubang batu bara yang telah dijadikan kuburan massal,”paparnya. Tidak hanya itu, Soleh memiliki rencana untuk membangun Museum Romusha untuk melengkapi objek wisata sejarah. ”Sembilan belas lubang kuburan massal itu kami harap bisa ditemukan sebelum bulan puasa tahun ini,” tekadnya. Soleh mengaku terus mengumpulkan informasi dari saksi sejarah dan mantan romusha yang saat ini masih hidup untuk mengetahui zaman kerja paksa yang dilakukan tentara Jepang.”Data terus kami cari,”katanya. Badjaji, tokoh masyarakat Bayah, mengaku sempat melihat kekejian tentara Jepang saat kerja paksa terjadi.Pada saat itu dia telah berumur 8 tahun.” Setiap hari dua sampai lima orang romusha mati.Kematian mereka karena kelaparan,” kata Badjaji.
Baca Selanjutnya Tentang - Mengenal Tugu Romusha di Bayah Banten Selatan

Jalur Kereta Api Bayah - Saketi

Jalur kereta api Saketi-Bayah yang terletak di Banten, merupakan salah satu jalur yang mendapat julukan “Death Railway”. Seperti yang telah diketahui, jalur dengan julukan yang sama juga terdapat di Birma-Thailand, dan di Pulau Sumatera yang mengubungkan Pekanbaru-Muaro Sijunjung. Setelah sedikit membahas tentang jalur Pekanbaru-Muaro Sijunjung, kali ini akan sedikit dibahas jalur kereta api Saketi-Bayah yang berjarak sekitar 89 Km. Jalur Saketi-Bayah yang dibangun Jepang mempunyai tujuan untuk mengangkut batubara yang digunakan untuk bahan bakar kereta dan kapal laut dari Cikotok serta menghindari kehilangan armada kapal laut Jepang yang digunakan mengangkut batubara dari Sumatera dan Kalimantan ke Jawa, karena mulai terganggunya jalur distribusi akibat serangan kapal selam Sekutu. Jepang mendapat informasi tentang adanya cadangan batubara di daerah Cikotok dekat Bayah dari arsip peninggalan pemerintah Hindia Belanda tahun 1900-an. Dalam laporan itu tertulis bahwa cadangan batubara di sana mencapai 20 sampai 30 juta ton. Untuk itu pada Agustus 1942 pemerintah Jepang yang diwakili biro transportasi melakukan penyelidikan bersama dengan pemandu lokal dan empat orang insinyur asal Belanda. Penyelidikan itu untuk mengetahui cara dan rintangan yang akan dihadapi dalam membuat jalur penghubung Saketi-Bayah. Setelah selesai melakukan penyelidikan, rancangan jalur mulai dibuat pada bulan Juli tahun 1942. Tidak hanya rancangan jalur, pembangunan beberapa infrastruktur pendukung barak, gudang, kantor, dan jalan juga berlangsung. Pembangunan jalur ini dimulai pada Februari 1943, setelah pemerintahan militer Jepang resmi memerintahkan pembangunannya. Namun, dalam perjalanannya pembangunan jalur ini menghadapi beberapa kendala misalnya seperti daerah yang ditutupi dengan hutan lebat, rawa, dan pegunungan penuh dengan hewan buas seperti harimau, buaya, ular berbisa, kalajengking dan juga penuh dengan berbagai macam penyakit. Untuk pembangunan jalur rel dan membuka hutan, banyak digunakan rakyat dari berbagai daerah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan dari daerah Banten sendiri. Tidak ada data yang pasti berapa jumlah romusha yang dipakai untuk membangun jalur ini, namun dalam buku War, Nationalism, and Peasants: Java Under The Japanese Occupation 1942-1945, karya Shigeru Sato, disebutkan bahwa dipekerjakan tidak kurang 25.000 sampai 55.000 buruh romusha harian. Dalam sebulan hampir 500 orang romusha tewas dalam proses pembangunan jalur ini. Pada umunya para romusha tewas karena kelaparan, kurangnya obat-obatan, pekerjaan yang berat di luar batas kemampuan para romusha, dan penyakit seperti Malaria dan Disentri. Romusha yang tewas kemudian dikuburkan dalam satu lubang. Untuk mengganti romusha yang tewas, Jepang kemudian merekrut jumlah romusha yang lebih banyak pada tiap harinya. Cara yang dilakukan Jepang untuk merekrut pekerja baru adalah dengan melakukan propaganda. Jepang mengundang para pemuda untuk ikut ambil bagian dalam proyek pembangunan jalur kereta api Saketi-Bayah, dan yang ikut akan mendapatkan bayaran 40 sen dan 250 gram beras. Tidak hanya itu Jepang juga bekerja sama dengan kepala desa untuk merekrut tenaga kerja. Seperti contoh yang dimuat dalam buku yang sama karya Shigeru Sato halaman 181, “Salah satu artikel dalam Jawashinbun yang melaporkan pembukaan jalur kereta api ini, memuji kepala Desa Cilankahan, Bayah Raden Kartahujaya untuk kerjasama positifnya dari tahap awal dalam tugas yang sulit, yaitu perekrutan tenaga kerja”. Cara paksaan pun digunakan untuk merekrut tenaga kerja, seperti yang dialami oleh Ahmad Parino salah seorang romusha yang masih selamat asal Purworejo kelahiran tahun 1924. “Waktu itu selepas pulang Sekolah Rakyat (SR), saya ditangkap tentara Jepang untuk dikirim menjadi Romusha di wilayah Banten. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 3,” katanya. Tidak hanya seorang Ahmad Parino, beberapa temannya pun ikut dibawa oleh tentara Jepang ke Banten untuk dipekerjakan sebagai romusha. Selama bekerja membangun jalur kereta api Saketi-Bayah, para romusha tidak jarang juga mendapat siksaan dari tentara Jepang. Para romusha itu dipaksa terus bekerja, baik itu membuka hutan atau memasang jalur rel untuk jalannya kereta. Ahmad Parino pun menambahkan “Salah satu perwira tentara Jepang yang sering menyiksa romusha adalah Samsua Hojai, bahkan saya pernah melihat dengan mata sendiri, sepuluh kawan saya ditembak mati oleh Samsua Hojai.” Nasib para romusha itu sedikit berubah setelah datangnya Tan Malaka ke Bayah yang bekerja sebagai juru tulis di kantor sosial setempat. Tan Malaka sangat memperhatikan nasib para romusha, ia sering memberikan saran tentang kesehatan dan kesejahteraan para romusha kepada pejabat direktur di tempat ia bekerja Kolonel Tamura, namun tidak berhasil. Tidak hanya itu yang ia lakukan, tidak jarang ia juga pernah membelikan para romusha itu nasi dengan upahnya sendiri. Ia juga meminta bantuan pemuda di sekitar Bayah untuk membangun dapur umum bagi para romusha, membangun rumah sakit di Bayah, dan membuka kebun buah-buahan dan sayur-sayuran di Tegal Lumbu dekat Bayah. Maret 1944 jalur ini selesai dibangun, dan mulai digunakan pada April 1944. Jalur ini lebih beruntung ketimbang jalur kereta maut Pekanbaru-Muaro Sijunjung karena, jalur ini masih digunakan untuk mengangkut batubara hingga tahun 1950-an. Tidak seperti jalur Pekanbaru-Muaro Sijunjung yang hanya digunakan sekali untuk menjemput para romusha yang masih hidup dan tertinggal di tengah belantara hutan Sumatera. Jumlah romusha yang meninggal dalam pembangunan jalur kereta maut Saketi-Bayah belum diketahui jumlah pastinya. Namun, asal kata Saketi dalam bahasa Sunda berarti 100 ribu. Banyak yang menganalogikan bahwa 100 ribu itu adalah jumlah romusha yang tewas dalam proyek pembangunan jalur kereta api maut ini. Tan Malaka menyebut dalam memoarnya, sampai akhir masa kependudukan Jepang luas kuburan tempat pemakaman romusha adalah 38 hektar. Untuk mengenang para romusha yang tewas, pemerintah membangun sebuah tugu di sebelah kantor Kecamatan Bayah, namun kondisinya sekarang kurang terawat.
Baca Selanjutnya Tentang - Jalur Kereta Api Bayah - Saketi